Thursday, November 22, 2012

Asuhan Kebidanan Varney Dan Soap Pada Balita Sakit



BAB I
PENDAHULUAN
A.             Latar Belakang
Derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yakni bukan saja bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental.
Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur-unsur mortalitas yang memengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah angka harapan hidup waktu lahir (Lo). Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator yaitu angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian pneumonia pada balita per 1000 balita, angka kematian diare pada balita per 1000 balita per 1000 balita dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 1000 kelahiran.
Menurut Susenas 2001 Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup, maka 340 ribu anak meninggal pertahun sebelum usia lima tahun dan diantaranya 155 ribu adalah bayi sebelum berusia satu tahun. Dari seluruh kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut, diare dan gangguan perinatal/neonatal.

B.              Manfaat Penulisan
Sebagaimana diketahui, derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, selain bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental.
Makalah ini dimaksudkan untuk lebih menggali masalah yang membahas mengenai  Balita Sakit. Dengan makalah ini, diharapkan agar petugas kesehatan lebih punya Wawasan tentang masalah ini.

C.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah Dalam makalah ini yaitu:
1)      Apa penyebab balita sakit?
2)      Bagaimana Tindakan ASKEB varney dan soap yang akan dilakukan pada balita yang sakit?
D.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan untuk pendokumentasian asuhan kebidanan adalah metode SOAP dengan menggunakan pola pikir manajemen kebidanan Varney.

E.               Sistematika Penulisan
Sistemetika penulisan ini adalah sebagai berikut :
BAB I    : PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menjelaskan tentang latar belakang dalam penulisan, serta sistematika penulisan.
BAB II   : TINJAUAN TEORI
Dalam bab ini penulis mengemukakan tentang Balita Sakit dan tindakan yang dilakukan.
            BAB III : TINJAUN KASUS
            Dalam bab ini dilakukan asuhan kebidanan Balita Sakit tindakan yang dilakukan.


BAB II PEMBAHASAN
A.    Proses  Kasus Balita Sakit
a.      Tanda bahaya umum (tidak dapat minum atau menyusu, memuntahkan isi semua lambung, kejang, latergi, atau tidak sadar).
Pada umumnya, anak-anak yang mempunyai tanda bahaya tergolong kasus klasifikasi berat.
b.      Pnemonia.
Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli), sering kali disertai proses infeksi akut pada bronkus sehingga disebut pnemunia dan bronko-pnemonia.
Klasifikasi pnemonia
1)      anak 2-5 bulan:
- pnemonia berat
- pnemonia
- bukan pnemonia (batuk tanpa disertai peningkatan prekuensi pernafasan)
2)      pnemonia yang berlangsung < 2 bulan
- infeksi yang serius
- infeksi bakteri lokal
3)      pnemonia berat
- batuk
- sukar bernafas
- sesak
- tarikan ujung dada bagian bawah ke dalam
Faktor resiko yang meningkatkan insiden pnemonia
Ø  usia <2 bulan
Ø  laki-laki
Ø  gizi kurang
Ø  berat badan lebih rendah
Ø  tidak mendapatkan asi yang memadai
Ø  polusi udara
Ø  kepadatan penduduk
Ø  imunisasi tidak memadai
Ø  devisiensi vitamin A
Ø  pemberian makanan tambahan terlalu dini
Ø  membedong anak

c.       Diare.
Klasifikasi diare meliputi tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan/sedang, dan dehidrasi berat. Etiologi diare meliputi infeksi(bakteri E.Colli ), virus(rata virus), parasit(amoeba), malabsorbsi, alergi, keracunana, defisiensi imun, atau sebab lain.

Penilaian Derajat Dehidrasi
Ø  keadaan umum
Ø  mata
Ø  air mata
Ø  mulut dan lidah
Ø  rasa haus
Ø  baik, sadar
Ø  normal
Ø  ada
Ø  basah
Ø  Minum biasa, tidak haus
Ø  gelisah, rewel
Ø  cekung
Ø  tidak ada
Ø  sangat kering
Ø  haus, ingin minum banyak
Ø  lesu, lunglai/tidak sadar
Ø  sangat cekung
Ø  tidak ada
Ø  Sangat kering
Ø  malas, tidak mau minum
Periksa turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat lambat
Derajat dehidrasi Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan, jika ada 1 tanda tambahan atau lebih Dehidrasi berat, jika ada 1 tambahan atau lebih.
Klasifikasi Tindakan Tanpa Rujukan Segera.
·         Pneumonia Antibiotik yang tepat
·         Kapan harus kembali dan kapan harus kembali segera
·         Batuk (bukan pneumonia) Beritahu cara melegakan tenggorokan
·         Kapan harus kembali
·         Dehidrasi ringan/sedang Beri cairan oralit/rencana terapi B
·         ASI dan makanan/minuman yang lain tetap diberikan setelah 3 jam pengobatan oralit
·         Tanpa dehidrasi Rencana terapi A:
·         Beri cairan tambahan
·         Lanjutkan pemberian makanan
·         Kapan harus kembali
·         Diare persisten Pemberian makanan khusus
·         Disentri Beri antbiotik untuk shigella (60% kasus)
·         Atasi dehidrasi
·         Demam mungkin bukan malaria (risiko rendah malaria) Beri antipiretik (parasetamol)
·         Kembali jika panas tidak turun dalam 2 hari
·         Pengobatan lain sesuai penyebab
·         Demam (mungkin DBD) Beri oralit
·         Beri antipiretik (parasetamol)
·         Kapan harus kembali
·         Demam (mungkin bkan DBD) Beri antipiretik (parasetamol)
·         Segera kembali jika 2 hari masih tetap demam
·         Cari penyebab lain
·         Campak dengan komplikasi Berikan vitamin A.
Klasifikasi Tindakan segera pra-rujukan
·         Pneumonia berat atau penyakit lainnya Beri dosis pertama antibiotic
·         Diare persisten berat Perubahan diet
·         Pemeriksaan laboratorium
·         Tangani dehidrasi
·         Penyakit berat dengan demam
·         Beri dosis pertama antibiotic
·         Antipiretik (parasetamol) jika suhu > 38,5 0C
·         Suntikan kinin/endemis malaria
·         Ambil sampel darah
·         Campak dengan komplikasi berat Beri dosis pertama antibiotic
·         Vitamin A
·         Salep mata untuk mata keruh atau nanah dari mata
·         Demam berdarah dengue (DBD) Tanda-tanda syok
·         Kendalikan kadar glukosa
·         Antipiretik (parasetamol) jika suhu > 38,5 0C
·         Mastoiditis Beri dosis pertama antibiotic
·         Dehidrasi berat Rencana terapi C
·         Kendalikan kadar glukosa
·         Antibiotik untuk kolera (edemis kolera)
·         Gizi buruk dan anemia Beri satu dosis vitamin A tanpa menghiraukan status pemberian vitamin A sebelumnya

Daftar tindakan segera pra-rujukan (cukup dosis pertama).
·         Beri antibiotic yang sesuai.
·         Beri kinin untuk malaria berat.
·         Beri vitamin A.
·         Mulai beri cairan IV untuk anak DBD dengan syok.
·         Lakukan tindakan untuk mencegah turunnya kadar gula darah.
·         Beri obat antimalaria oral.
·         Beri parasetamol untuk panas tinggi/nyeri akibat mastoiditis.
·         Beri salep mata tetrasiklin atau kloramfenikol.
·         Beri oralit sedikit demi sedikit dalam perjalanan ke rumah sakit.
Jika dibutuhkan rujukan anak.
·         Jelaskan pentingnya rujukan dan minta persetujuan.
·         Hilangkan kekhawatiran.
·         Tulis surat rujukan.
·         Beri peralatan dan instruksi yang diperlukan pada ibu/pengantar untuk merawat selama di perjalanan.
Jika bayi mengalami kesulitan minum, diberi ASI kurang dari 8 kali dalam 24 jam, diberi minuman atau makanan lain selain ASI, berat badan rendah menurut usia dan tidak ada indikasi untuk dirujuk segera ke rumah sakit, lakukan Penilaian Pemberian ASI.
Ø  Tanyakan apakah bayi telah diberi ASI beberapa jam sebelmunya.
Ø  Lihat cara pemberian ASI.
Ø  Apakah bayi dapat melekat dengan baik (posisi dagu, mulut, bibir, dan areola [4 tanda]).
Ø  Apakah bayi mengisap degan efektif.
Ø  Bersihkan hidung yang tersumbat
Klasifikasi Masalah Pemberian Minum/ASI
Ø  Gejala Klasifikasi Tidak dapat minum atau Sama sekali tidak melekat pada payudara atau Tidak dapat menghisap sama sekali.
Ø  Melekak kurang baik atau Menghisap kurang efektif atau Pemberiann ASI kurang dari 8 kali dalam 24 jam.
Ø  Mendapat makanan atau minuman lain selain ASI atau Berat badan menurun usia rendah atau Terdaat trush(luka atau bercaj di mulut).
Ø  Berat badan menurun usia rendah dan tidak ada tanda pemberian minum yang kurang kuat Tidak dapat minum mungkin terdapat infeksi bakteri serius.
Ø  Masalah pemberian minum atau berat badan rendah atau Tidak ada massalah pemberian minum
Jika rujukan tidak memungkinkan, beri penisilin prokain sekali sehari dan gentamisin tiap 12 jam sekali, diberikan selama 5 hari. Pemberiannya dengan spuit 1 ml. Antibiotik oral pilihan pertama adalah kontrimoksazol ( hindari pemakaian pada bayi kurang dari 1 bulan yang prematur atau kunung) dan pilihan kedua adalah amoksisilin.
Tindakan Lanjut rujukan
a.      Pneumonia
Sesudah 2 hari munculnya gejala lakukan pemeriksaan untuk menentukan adanya tanda bahaya umum, lakukan penilaian utuk batuk/sukar bernafas. Tanyakan apakah anak bernafas dengan lambat, apakah nafsu makan anak membaik. Jika ada tanda bahaya umum dan tarikan dinding dada, beri dosis pertama antibiotik pilihan kedua, kemudian rujuk dengan segera. Jika ferkuensi nafas atau nafsu makan tidak menunjukan perbaikan ganti dengan antibiotik pilihan kedua dan kembali 2 hari kemudian. Jika nafas melambat atau nafsu makan membaik, lanjutkan antibiotik sampai 5 hari.
b.      Diare per sisten
Setelah 5 hari mulainya diare, jika belum berhenti lakukan penilaian ulang lengkap, beri pengobatan yang sesuai dan lakukan rujukan. Jika diare berhenti anjurkan pemberian makan yang sesuai degan usia anak.
c.       Disentri
Setelah 2 hari munculnya gejala, tanyakan apakah diare berkurang, apakah jumlah darah dalam tinja berkurang, apakah nafsu makan anak membaik. Jika dehidrasi atasi dehidrasi. Jika diare jumlah tinja dan nafsu makan tetap/memburuk ganti dengan antibiotik pilihan untuk shigella, dan kembali 2 hari kemudian (keculai usia kurang dari 12 bulan dengan dehidrasi pada kunjungan pertama atau campak dalam 3 bulan terakhir harus dilakukan rujukan). Jika diare berkurang, jumlah darah berkurang dan nafsu makan membaik lanjutkan antibiotik hingga selesai.
d.       Malaria
Malaria yang dimaksud disini adalah malaria yang terjadi di daerah resiko tinggi atau resiko rendah. Jika anak tetap demam sesudah 2 hari atau demem lgi dalam 14 hari, lakukan penilaian ulang lengkap terhadap gejala utama untuk mencari poenyebab lain dari demam. Tindakan dilkukan jika ada tanda bahaya umum atau kaku duduk, kondisi ini harus diperlakukan sebagai penyakit berat dengan demam. Jika ada penyebab lain dari demam, berikan pengobatan yang sesuai.
Jika malaria merupakan satu 0- satunya penyebab demam periksa sedian darah yang sudah diambil sebelumnya. Jika hasilnya positif falsifarum atau aa infeksi campuran, beri antimalaria pilihan kedua. Jika tetap demem lakukan rujukan. Jika positif untuk vivak berikan klorokuin 3 hari + ¼ tablet primakuin/hari selama 5 hari. Jika negatif lakukan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
e.      Demam mungkin bukan malaria
Demam yang terjadi di daerah resiko rendah malaria. Jika tetap demam setelah 2 hari, lakukan penilaian ulang lengkap untuk gejala utama dan penyebab lain. Tindakan dilakukan jika ada tanda bahaya seperti kaku duduk, kondisi ini diperlakukan sebagai penyakit berat dengan demam. Jika ada penyebab lain dari demam, beri pengobatan. Jika malaria merupakan satu – satunya penyebab demam, ambil sedian darah, beri obat antimalaria oral pilihan pertama tanpa menunggu hasil sedian darah, nasihatkan untuk kembali dalam 2 hari jika tetap demam. Jika anak tetap demam selama 7 hari, lakukan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
f.        Demam bukan malaria
Demem yang terjadi pada daerah tanpa resiko malaria dan tidak ada kunjungan ke daerah dengan resiko malaria. Jika tetap demem setelah 3 hari lakukan penilaian ulkang lengkap terhadap gejala utama untuk mencari penyebab lain. Tindakan dilakukanjika ada tanda umum atau kaku duduk, kondisi ini diperlakukan sebagai penyakit berat dengan demam. Jika ada penyebab lain dari demam berikan pengobatan sesuai lasifikasi. Jika anak tetap demam selama 7 hari, lakukan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jika tidak diketahui penyebab dememnya anjurkan untuk kembali dalam 2 hari. Jika tetap demam pastikan bahw anak mendapat tambahan cairan dan mau makan.
g.      Campak dengan komplikasi mata atau mulut
Sesudah 2 hari munculnya gejala, perhatikan apakah matanya merah dan ada nanah keluar dari mata? Apakah ada luka di mulut? Bagaimana bau mulut? Pengobatan infeksi mata diberikan jika mata masih bernanah. Jika pemberian obat sudah benar lakukan rujukan tetapi jika salah ajari cara yang benar. Jika mata tidak bernanah dan tidak merah hentikan pengobatan. Pengobatan luka dimulut diberika jika gejala memburuk dan tercium bau busuk. Jika demikian lakukan rujukan. Jika mulut tetap atau makin membaik lakukan pengobatan dengan gentian violet 0,25 % sampai 5 hari.
h.      Demam munkin DBD dan bukan DBD
Jika tetap demem setelah 2 hari munculnya gejala lakukan penilaian ulang lengkap untuk mencari penyebab lain. Tindakan dilakukan jika ada tanda umum atau kaku duduk kondisi ini diperlakukan sebagai penyakit berat dengan demam. Jika ada penyebab lain berikan pengobatan yang sesuai. Jika ada tanda – tanda DBD kondisi ini diperlakukan sebagai DBD. Jika tetap demem selama 1 minggu lakukan rujukan.
i.        Masalah pemberian makan
Setelah 5 hari munculyan masalah lakukan penilaian tentang cara pemberian makan. Nasihat ibu tentang masalah dalam pemberian makanan yang masih ada atau baru dijumpai. Jika ada perubahan yang mendasar minta untuk kunjungan ulang. Jika berat badan menurut usia sangat rendah minta kembali setelah 4 minggu untu evaluasi BB.
j.         Masalah pemberian minum
Setelah 2 hari munculyan masalah lakukan penilaian tentang cara pemberian minum.beritahu ibu tentang masalah cara pemberian minum. Jika berat badan rendah menurut usia minta ibu melakukan kunjungan ulang setelah 14 hari untuk evaluasi. Jika berat badan tidak rendah lagi minta untuk kmbali 14 hari kemudian untuk imunisasi dan lanjutkan evaluasi sampai BB bertambah lagi. Tindakan juga dilakukan jika tidak yakin akan ada perubahan minum atau berat badan terus turun.
k.       Anemia
Setelah 4 minggu munculnya gejala beri zat besi untuk 4 minggu berikunya dan beritahu untuk kembali 4 minggu kemudian. Jika dalam 8 minggu masih pucat rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jika telapak tangan sudah tidak pucat dalam 8 minggu tidak perlu pengobatan tambahan.
l.        Infeksi bakteri lokal
Setelah 2 hari munculnya gejala perhatikan tali pusat bayi apakah merah atau keluar nanah? Apakah kemerahan meluas? Apakah pustula makin banyak atau parah? Tindakan dilakukan jika ada nanah atau kemerahan menetap atau bertambah parah, jika demikian lakukan rujukan. Jika nanah dan kemerahan membaik lanjutkan antibiotik sampai 5 hari.
m.    Luka atau bercak di mulut
Setelah 2 hari gejala trush ini muncul lakukan penilaian terhadap luka di mulut bayi. Jika bertambah parah atau bayi bermasalah dengan menyusui lakukan rujukan. Jika luika menetap atau membaik dan bayi mau menyusui dengan baik lanjutkan dengan gentian violet 0,25 % sampai 5 hari.

B.    Konsep Dasar Masing-Masing Penyakit Pada Balita Sakit.
1.         Penyakit Infeksi
Penyakit  infeksi merupakan penyakit yang banyak ditemui pada masyarakat. Pembagian penyakit infeksi dasar utamanya adalah dsari penyebabnya . Adapun faktor penyebabnya adalah :
·         Bakteri misalnya pada penyakit difteri, tetanus, TBC, typhus.
·         Virus misalnya pada penyakit demam berdarah, influenza
·         Jamur misalnya pada anak-anak yang menderita gangguan Imunologis tanda-tandanya warna putih pada mulut anak ,bisa juga terjadi pada anak-anak yang menderita penyakit lama yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.
·         Parasit misalnya pada malaria dan cacingan.
Memeriksa Kemungkinan Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri :
·         Apakah bayi tidak mau minum atau memuntahkan semuanya ?
·         Apakah bayi kejang ?
·         Apakah bayi bergerak hanya jika dirangsang?
·         Hitung napas dalam 1 menit,
·         Jika ≥ 60 kali/ menit, ulangi menghitung.Apakah bayi bernapas cepat( ≥ 60 kali/menit) atau bayi bernapas lambat (< 30 kali/menit).Lihat apakah ada tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat.
·         Dengarkan apakah bayi merintih ?
·         Ukur suhu aksiler.
·         Lihat, adakah pustul di kulit ?
·         Lihat, apakah mata bernanah ?
·         Apakah pusar kemerahan atau bernanah ?
·         Apakah kemerahan meluas sampai ke dinding perut ?
a.      Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri Berat
Tanda / Gejala
Ø  Tidak mau minum atau memuntahkan semua
Ø  Riwayat Kejang
Ø  Bergerak hanya jika dirangsang
Ø  Napas cepat ( ≥ 60 kali /menit )
Ø  Napas lambat ( < 30 kali / menit )
Ø  Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat
Ø  Merintih
Ø  Demam ≥ 37.5 °C
Ø  Hipotermia berat < 35.5 °C
Ø  Nanah yang banyak di mata
Ø  Pusar kemerahan meluas ke dinding perut.
b.      Infeksi Bakteri Lokal
Tanda Dan Gejala
Ø  Pustul kulit
Ø  Mata bernanah
Ø  Pusar kemerahan atau bernana
c.       Mungkin Bukan Infeksi
Tidak terdapat salah satu tanda di atas maka tanyakan.
Apakah Bayi Diare ?
jika YA,
Tanyakan :
Sudah berapa lama ?
Lihat Dan Raba
Lihat keadaan umum bayi, Apakah :
Letargis atau tidak sadar ?
Gelisah/ rewel ?
Apakah matanya cekung ?
Cubit kulit perut,
Apakah kembalinya ?
Sangat lambat ( > 2 detik ) ?
Lambat ?
2.      Diare
Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal oleh ibunya. Untuk keperluan diagnosis, secara epidemiologis dalam masyarakat, diare didefinisikan sebagai berak lembek cair sampai cair 3-5 kali perhari.
Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang. Sekitar 80% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja.
Penyebab diare akut paling sering adalah faktor infeksi. Pada garis besarnya dibagi menjadi 2 golongan yaitu infeksi parenteral dan enteral. Infeksi enteral merupakan infeksi dalam usus dimana 50 % diare pada anak disebabkan karena virus.
Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari jumlah tinja dan penurunan konsistensi tinja dari lembek cair sampai cair, dengan atau tanpa darah dan atau tanpa lendir di dalam tinja, di mana manifestasi klinik yang utama adalah kehilangan air dan elektrolit melalui saluran cerna. Untuk keperluan diagnosis, secara epidemiologis dalam masyarakat, diare didefinisikan sebagai berak lembek cair sampai cair 3-5 kali perhari. Berdasarkan waktunya, diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronik. Diare kronik adalah diare yang melanjut hingga 2 minggu atau lebih.
Pembagian diare menurut Depkes meliputi diare tanpa tanda dehidrasi, dehidrasi ringan sedang, dan dehidrasi berat. Dehidrasi terjadi bila cairan yang keluar lebih banyak daripada cairan yang masuk. Diare tanpa tanda dehidrasi terjadi jika kehilangan cairan <5% BB, diare dehidrasi ringan sedang jika kehilangan cairan 5-10% BB, dan diare dehidrasi berat jika kehilangan cairan >10% BB.
Apakah Bayi Diare ?
Jika YA,
Tanyakan :
• Sudah berapa lama ?
Lihat Dan Raba
• Lihat keadaan umum bayi, Apakah :
- Letargis atau tidak sadar ?
- Gelisah/ rewel ?
• Apakah matanya cekung ?
• Cubit kulit perut,
Apakah kembalinya ?
- Sangat lambat ( > 2 detik ) ?
- Lambat ?

a.      Diare Dehidrasi Berat
Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :
Ø  Letargis atau tidak sadar.
Ø  Mata cekung.
Ø  Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat

b.      Diare Dehidrasi Ringan/ Sedang
Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :
Ø  Gelisah / rewel.
Ø  Mata cekung.
Ø  Cubitan kulit perut kembalinya lambat.
c.       Diare Tanpa Dehidrasi
Tanda Dan Gejala
Ø  Tidak cukup tanda untuk dehidrasi berat atau ringan / sedang
Ø  Bayi muda dikatakan diare apabila terjadi perubahan bentuk feses, lebih banyak dan lebih cair (lebih banyak air daripada ampasnya).
Ø  Pada bayi dengan ASI eksklusif berak biasanya sering dan bentuk feses lembek.
3.      Ikterus
Pigmen bernama bilirubin adalah faktor penyebab dari bayi kuning (ikterus) yang harus di kenali dan waspadai. Sebetulnya, setiap orang memiliki bilirubin dalam sel darah merahnya. Setiap jangka waktu tertentu sel darah merah akan mati dan menguraikan sel-selnya diantaranya menjadi bilirubin. Normalnya yang bertugas menguraikan bilirubin tersebut adalah hati, untuk kemudian dibuang lewat BAB. Saat bayi masih dalam kandungan, hati sang ibulah yang mengambil tugas menguraikan bilirubin dalam sel darah merah bayi. Ketika bayi lahir, perkembangan hatinya belum sempurna sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Akibatnya terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian menyebabkan timbulnya warna kuning pada kulit bayi.

Sebagian lainnya karena ketidak-cocokan golongan darah ibu dan bayi. Peningkatan kadar bilirubin dapat diakibatkan oleh pembentukan yang berlebih atau adanya gangguan pengeluarannya.
Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan bentuk fisiologik dan patologik. Yang bersifat patologik dikenal sebagai hiperbilirubinemia yang dapat mengakibatkan gangguan saraf pusat atau kematian.
Sampai saat ini ikterus masih merupakan masalah pada bayi baru lahir, terjadi sekitara 25% - 50% pada bayi lahir cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada bayi lahir kurang bulan. Pemeriksaan adanya ikterus pada bayi muda dapat dilakukan di rumah dan pada waktu kunjungan neonatal. Untuk pemeriksaan gejala kuning di rumah adalah dengan membawa bayi ke dalam ruangan yang memiliki penerangan yang jelas atau dengan lampu fluorescent. Bila kulit bayi tergolong putih, tekanlah jari anda secara perlahan-perlahan ke bagian dahi, dada, telapak tangan dan telapak kaki. Kemudian angkat tangan anda dan perhatikan adakah semburat warna kuning pada bagian tubuh bayi yang ditekan tadi. Bila kulit bayi tergolong hitam, paling jelas bisa diteliti pada gusi atau bagian putih di area mata. Sedangkan pemeriksaan di klinik, dokter anak akan memeriksa kesehatannya. Kadar bilirubin sendiri baru bergerak pada hari ke 3 atau ke 5 setelah kelahiran. Jadi apakah tingkat bilirubin bayi anda normal atau tidak, baru diketahui 3 atau 5 hari. Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan pemeriksaan dalam. Bayi akan diambil darahnya sedikit, biasanya di ujung jari kaki, kemudian diteliti dan diperiksa di laboratorium.
Sangat penting untuk mengetahui kapan ikterus timbul, kapan menghilang dan sampai bagian tubuh mana kuning terlihat. Ketiga hal tersebut harus diketahui dengan pasti untuk mengklasifikasikan ikterus secara benar. Pada kasus ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi, ikterus timbul sebelum umur 3 hari.
Klasifikasi ikterus
Untuk mengklasifikasikannya dilihat dari gejala-gejalanya yaitu:
Ikterus Fisiologis (ringan)
Ø  Timbul kuning pada umur >24 jam sampai <14 hari
Ø  Kuning tidak sampai telapak tangan / telapak kaki

Ikterus fisiologis tidak berbahaya, penanganannya bayi dijemur setiap pagi antara jam 7 - 9 pagi selama 30 - satu jam. Tingkatkan frekuensi pemberian ASI, minimal 8 - 12 kali sehari. Jika dirasakan sudah cukup menyusuinya, sebaiknya perhatikan apakah bayi benar-benar menghisap atau hanya mengempeng saja. Bila dirasakan ada masalah dalam menyusui segera lakukan konsultasi di klinik laktasi terdekat. Bila gejala masih tampak hingga >14 hari segera periksakan ke dokter.
Ikterus Patologis (berat)
Ø  Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir,atau
Ø  Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari, atau
Ø  Kuning sampai telapak tangan / telapak kaki, atau
Ø  Tinja berwarna pucat

Jika tidak segera ditangani, kadar bilirubin terus meningkat sehingga dapat meracuni otak, terjadinya kerusakan saraf yang dapat menyebabkan cacat seperti tuli, pertumbuhan terhambat atau kelumpuhan otak besar atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Jika mengalami salah satu gejala tersebut di atas segera periksakan bayi ke dokter.

C.     Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan
A.    Asuhan kebidanan adalah aktivitas atau intervensi yang dilaksanakan oleh bidan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/permasalahan.
B.      Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakakn sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah,penemuan-penemuan,keterampilan,dan rangkain atau tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
C.     Langkah-langkah asuhan kebidanan.
1.      Mengumpulkan data.
Tahap ini merupakan langkah yang akan menentukan langkah berikutnya,sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menetukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya. Sehingga dalam pendekatan ini harus meliputi data subyektif,obyektif,dan hasil pemeriksaan.
a.      Data Subyektif
·         Identitas: nama,anak,umur,tanggal lahir,jenis kelamin,status anak,serta identitas ibu dan ayah.
·         Alas an kunjungan / keluhan utama.
·         Riwayat kehamilan,persalinan,dan nifas yang lalu.
·         Riwayat kesehatan: riwayat kesehatan sekarang dan riwayat penyakit keluarga.
·         Pola kebiasaan anak
Pola nutrisi,pola eliminasi,aktivitas,pola tidur,pola hubungan,dan peran pola kepercayaan
b.      Data Obyektif
·         Pemeriksaan umum:keadan umum,kesadaran,TTV,BB,TB,lingkar kepala.
·         Pemeriksaan fisik:kepala,muka,mata,hidung,telinga,mulut,leher,dada,perut,lipatan paha,genitalia,punggung,anus,ekstrimitas atas dan bawah.
2.      Menginterpretasikan data untuk meningkatkan diagnosa atau masalah.
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
3.      Mengidentifikasikan diagnosa/masalah potensial.
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa / masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi,bila memungkinkan dilakukan pencegahan.
4.      Menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk di konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
5.      Menyusun rencana asuhan menyeluruh.
Dalam langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh oleh langkah-langkah sebelumnya,langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi / diantisipasi.
6.      Implementasi.
Pada langkah ke enam ini asuhan rebcana menyeluruh seperti yang telah di uraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara efisien dan aman.
7.      Evaluasi.
Pada langkah ke tujuh ini dilaksanakan evaluasi keefektifan darei asuhan yang sudah diberikan,meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah yang benar-benar terpenuhi. Sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah di identifikasikan di dalam diagnosa dan masalah.


BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Di dalam penulisan makalah ini, Penulis dapat mengambil kesimpulan :
Dengan menggunakan metode SOAP dengan menggunakan pola pikir manajemen kebidanan Varney maka dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dan sikap yangan harus dilakukan bidan dalam memberikan asuhan secara tepat, cermat.
Dengan metode SOAP dengan menggunakan pola pikir manajemen kebidanan Varney maka dapat meningkatkan kemammpuan bidan dalam hal pengetahuan didapatkan hasil pengkajian Asuhan Kebidanan yang diberikan pada klein yaitu melakukan rehidrasi, memberikan informasi tentang Balita sakit, memberikan KIE tentang nutrisi dan personal hygiene, anjurkan ibu untuk mengontrolkan anaknya bila ada keluhan.

B.    Saran
1)      Diharapkan kepada pihak Kebidanan dapat meningkatkan lagi memberikan promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai ASI eksklusif, hiperbilirubin, dan lain-lain.
2)      Diharapkan pemeriksaan golongan darah pada bayi dapat dilakukan 1 hari setelah kelahiran atau sebelum bayi pulang agar kelainan pada bayi dapat terdeteksi sedini mungkin.
3)      Diharapkan Masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasannya dalam bidang kesehatan seperti cara pemberian ASI, hiperbilirubin, pentingnya kunjungan neonatal dan lainnya.
4)      Diharapkan masyarakat lebih aktif dalam meningkatkan derajat kesehatan  jasmani, lingkungan dan lainnya.

No comments:

Post a Comment