Masih menurut
Tarigan (1994: 104) mengatakan bahwa “Berdasarkan letak kalimat utama dan
kalimat penjelasnya yang ada dalam satu paragraf dikenal dua pola pengembangan
paragraf yaitu pola umum ke khusus dan pola khusus ke umum.” Adapun pola
paragraf yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Paragraf Deduktif
Paragraf deduktif
adalah suatu paragraf yang menampilkan kalimat utama atau kalimat topik pada
awal paragraf, kemudian kalimat utama itu diikuti oleh kalimat-kalimat lain
sebagai pengembangnya, (Tarigan, 1994: 105).
b. Paragraf Induktif
Paragraf induktif
boleh dikatakan sebagai lawan atau kebalikan dari paragraf deduktif. Kalimat
utamanya ditempatkan pada bagian kalimat, dan pada kalimat induktif sebaliknya.
Kalimat utama pada paragraf induktif ditempatkan pada akhir paragraf dan
sebelum kalimat itu ada beberapa kalimat penjelas. Dengan demikian, struktur
kalimat ini diawali dengan beberapa kalimat penjelas lebih dahulu, baru
kemudian diikuti oleh kalimat utama. (Tarigan, 1994:105). Sedangkan berdasarkan
tujuannya paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, antara lain:
1) Paragraf Pembuka atau
Pengantar
Paragraf pengantar atau pembuka merupakan suatu jenis
paragraf yang berfungsi untuk mengantarkan pembaca pada pokok persoalan yang
akan dikemukakan.
Paragraf pembuka berperan sebagai pengantar untuk sampai
kepada masalah yang akan diuraikan. Sebab itu paragraf pembuka harus dapat
menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca
kepada masalah yang akan diuraikan. Paragraf pembuka ini jangan terlalu panjang
supaya tidak membosankan. Paragraf pembuka hendaknya juga sanggup atau
mempunyai kemampuan menghubungkan pikiran pembaca pada pokok masalah yang akan
disajikan selanjutnya.
Paragraf pembuka mempunyai dua kegunaan yaitu selain
supaya dapat menarik perhatian pembaca, juga berfungsi menjelaskan tentang
tujuan dari penulis tersebut. Oleh sebab itu, penulis harus mampu menyajikan
pembukaan ini dengan kalimat-kalimat yang menarik. (Tarigan, 1994: 106).
2) Paragraf Penghubung
atau Pengembang
Paragraf pengembang
merupakan paragraf yang terletak antara pengantar dan penutup. Paragraf
penghubung juga disebut paragraf pengembang. Fungsinya adalah untuk
mengembangkan pokok persoalan yang telah ditentukan. Pada paragraf ini penulis
menyatakan pokok pikiran yang ingin dikemukakan dan sekaligus menerangkan atau
mengambangkannya. Pengembangan itu dapat dilakukan dengan cara menganalisis
permasalahan yang dikemukakan dan dapat pula sekaligus dengan memberikan
bukti-bukti.
Masalah yang akan
diuraikan terdapat dalam paragraf penghubung. Paragraf penghubung berisi inti
persoalan yang akan dikemukakan. Oleh karena itu, secara kuantitatif paragraf
inilah yang paling panjang, dan antara paragraf dengan paragraf harus
berhubungan secara logis. (Tarigan, 1994: 108).
3) Paragraf Penutup
Paragraf penutup
merupakan suatu jenis paragraf yang berfungsi untuk mengakhiri karangan atau
sebagai penutup karangan. Oleh karena itu, paragraf ini terletak pada akhir
sebuah karangan atau karya tulis. Isinya dapat berupa suatu simpulan atau
rangkuman yang menandai berakhirnya suatu pembahasan. (Tarigan, 1994: 109).
Sebagai penutup,
paragraf ini pun sangat penting karena tanpa paragraf ini pembaca sulit
memahami apakah suatu karya tulis selesai atau belum. Dengan demikian, paragraf
penutup harus ada pada setiap karya tulis.
Menurut Goris Keraf
(1995: 7-17), tekhnik pemaparan paragraf dibagi menjadi empat (4) macam, yaitu:
a) Deskriptif
Suatu paragraf yang
melukiskan apa yang terlihat di depan mata yang bersifat tata ruang atau tata
letak.
b) Ekspositoris
Suatu paragraf yang
menampilkan suatu objek peninjaunya tertuju pada suatu unsur saja.
Penyampaiannya dapat menggunakan perkembangan analisis kronologis atau
keruangan.
c) Argumentatif
Suatu yang lebih
bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek.
Biasanya paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.
d) Naratif
Karangan narasi
biasanya dihubung-hubungkan dengan sebuah cerita yang bersifat menceritakan.
No comments:
Post a Comment