Paragraf
pada dasarnya merupakan istilah lain alinea. Sementara orang, untk menyebut
rangkaian kalimat yang terikat dalam satu kesatuan, ada yang menggunakan
istilah alinea. Demi keseragaman penyebutan, dalam pembicaraan ini yang
digunakan adalah paragraf. Paragraf sebagai suatu bentuk pengungkapan gagasan
yang terjalin dalam rangkaian beberapa kalimat (Mustakim, 1994: 112).
Paragraf
adalah “Seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik.agraf
merupakan perpaduan kalimat-kalimat yang berkaitan dalam membentuk gagasan atau
topik tersebut,” (Arifin-Tasai, 2002: 121).
Paragraf merupakan
sebagian bagian dari suatu karangan atau tuturan yang terdiri dari sejumlah
kalimat yang mengungkapkan satuan informasi dengan ide pokok sebagai
pengendalinya (M. Ramlan, 1993: 1).
Gorys Keraf (dalam
Miharja, 1996: 2) menyebutkan bahwa paragraf adalah “Suatu paragraf bukanlah
merupakan kumpulan atau tumpukan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri
atau lepas, tetapi dibangun oleh kalimt-kalimat yang mempunyai hubungan timbal
balik.”
Pada umumnya,
paragraf yang baik harus memiliki hubungan yang kohesi dan koherensi. Kohesi
adalah keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsure yang lain dalam
paragraf sehingga tercipta hubungan yang apik. Koherensi adalah kepaduan wacana
sehingga komunikatif dan mengandung satu ide (Syamsudin A.R, 1997: 44).
Kohesi merujuk pada
pertautan bentuk sedangkan koheresi merujuk pada pertautan makna. Paragraf yang
baik umumnya memiliki keduanya. Kalimat atau kata yang satu dengan yang lainnya
bertautan, pengertian yang satu menyambung dengan pengertian yang lain.
Sebuah paragraf
hendaknya memiliki hubungan yang utuh. Keutuhan paragraf merupakan faktor yang
menentukan kemampuan berbahasa.
Menyusun paragraf
membutuhkan kemampuan dan ketelitian. Kemampuan yang dimaksud adalah bagaimana
penyusun atau penulis mampu mengorganisir kalimat-kalimat yang disusun sehingga
menjadi paragraf yang padu dan benar-benar berhubungan kemudian sama-sama
membentuk satu ide pokok.
Di dalam paragraf,
kalimat bersama-sama menciptakan suasana yang menjelaskan pikiran utama yang
terdapat dalam kalimat-kalimat yang satu menyusul kalimat yang lain dengan
teratur. Tiap-tiap kalimat dalam paragraf susul menyusul dengan teratur. Antara
tiap kalimat itu erat sekali hubungannya, kalimat yang kemudian adalah
kelanjutan dari kalimat yang terdahulu. Tidak boleh satu kalimat yang sumbang,
yang menceritakan hal lain diluar suasana ini. Jika ada harus dikeluarkan. Oleh
karena itu, letak kalimat utama tidak boleh sembarangan. Urutannya harus
menggambarkan pikiran utama.
“Ada cara yang mudah dalam
menyusun paragraf. Selain mudah untuk mengembangkannya, kalimat-kalimat
penjelasnya juga sangat beraturan. Mula-mula dengan menyusun kerangka paragraf
kemudian dari kerangka paragraf itu dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Akan
tetapi, yang perlu diperhatikan dalam menyusun kerangka paragraf itu adalah
betul-betul memperhatikan urutan kerangka itu benar-benar merupakan urutan yang
sesuai dengan waktu atau kronologis,” (Z.H. Idris, dkk, 1979: 180).
No comments:
Post a Comment